Minggu, 01 April 2012

RISIKO BUNUH DIRI

A.      Definisi
Resiko bunuh diri adalah keinginan seseorang untuk mengakhiri hidup diri sendiri dengan unsur kesengajaan.
Pada umumnya tindakan bunuh diri merupakan cara ekspresi orang yang penuh stress. Perilaku bunuh diri berkembang dalam rentang diantaranya :
·       Suicidal ideation, Pada tahap ini merupakan proses contemplasi dari suicide, atau sebuah metoda yang digunakan tanpa melakukan aksi/ tindakan, bahkan klien pada tahap ini tidak akan mengungkapkan idenya apabila tidak ditekan. Walaupun demikian, perawat perlu menyadari bahwa pasien pada tahap ini memiliki pikiran tentang keinginan untuk mati
·       Suicidal intent, Pada tahap ini klien mulai berpikir dan sudah melakukan perencanaan yang konkrit untuk melakukan bunuh diri,
·       Suicidal threat, Pada tahap ini klien mengekspresikan adanya keinginan dan hasrat yan dalam , bahkan ancaman untuk mengakhiri hidupnya .
·       Suicidal gesture, Pada tahap ini klien menunjukkan perilaku destruktif yang diarahkan pada diri sendiri yang bertujuan tidak hanya mengancam kehidupannya tetapi sudah pada percobaan untuk melakukan bunuh diri. Tindakan yang dilakukan pada fase ini pada umumnya tidak mematikan, misalnya meminum beberapa pil atau menyayat pembuluh darah pada lengannya. Hal ini terjadi karena individu memahami ambivalen antara mati dan hidup dan tidak berencana untuk mati. Individu ini masih memiliki kemauan untuk hidup, ingin di selamatkan, dan individu ini sedang mengalami konflik mental. Tahap ini sering di namakan “Crying for help” sebab individu ini sedang berjuang dengan stress yang tidak mampu di selesaikan.


·       Suicidal attempt, Pada tahap ini perilaku destruktif klien yang mempunyai indikasi individu ingin mati dan tidak mau diselamatkan misalnya minum obat yang mematikan . walaupun demikian banyak individu masih mengalami ambivalen akan kehidupannya.
·       Suicide. Tindakan yang bermaksud membunuh diri sendiri . hal ini telah didahului oleh beberapa percobaan bunuh diri sebelumnya. 30% orang yang berhasil melakukan bunuh diri adalah orang yang pernah melakukan percobaan bunuh diri sebelumnya. Suicide ini yakini merupakan hasil dari individu yang tidak punya pilihan untuk mengatasi kesedihan yang mendalam.
B.       Penyebab Bunuh diri
1.    Faktor genetic dan teori biologi
Factor genetic mempengaruhi terjadinya resiko bunuh diri pada keturunannya. Disamping itu adanya penurunan serotonin dapat menyebabkan depresi yang berkontribusi terjadinya resiko buuh diri.
2.    Teori sosiologi
Emile Durkheim membagi suicide dalam 3 kategori yaitu : Egoistik (orang yang tidak terintegrasi pada kelompok social) , atruistik (Melakukan suicide untuk kebaikan masyarakat) dan anomic ( suicide karena kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain dan beradaptasi dengan stressor).
3.    Teori psikologi
Sigmund Freud dan Karl Menninger meyakini bahwa bunuh diri merupakan hasil dari marah yang diarahkan pada diri sendiri.
4.    Penyebab lain
1.    Adanya harapan untuk reuni dan fantasy.
2.    Merupakan jalan untuk mengakhiri keputusasaan dan ketidakberdayaan
3.    Tangisan untuk minta bantuan
4.    Sebuah tindakan untuk menyelamatkan muka dan mencari kehidupan yang lebih baik


C.       Pengkajian resiko bunuh diri
Sebagai perawat perlu mempertimbangkan pasien memiliki resiko apabila menunjukkan perilaku sebagai berikut :
1.    Menyatakan pikiran, harapan dan perencanaan tentang bunuh diri
2.    Memiliki riwayat satu kali atau lebih melakukan percobaan bunuh diri.
3.    Memilki keluarga yang memiliki riwayat bunuh diri.
4.    Mengalami depresi, cemas dan perasaan putus asa.
5.    Memiliki ganguan jiwa kronik atau riwayat penyakit mental
6.    Mengalami penyalahunaan NAPZA terutama alcohol
7.    Menderita penyakit fisik yang prognosisnya kurang baik
8.    Menunjukkan impulsivitas dan agressif
9.    Sedang mengalami kehilangan yang cukup significant atau kehilangan yang bertubi-tubi dan secara bersamaan
10.     Mempunyai akses terkait metode untuk melakukan bunuh diri misal pistol, obat, racun.
11.     Merasa ambivalen tentang pengobatan dan tidak kooperatif dengan pengobatan
12.      Merasa kesepian dan kurangnya dukungan sosial.


Selengkapnya Disini
Add caption

0 komentar:

Posting Komentar

™Beri Comment Anda Untuk Perubahan™

Posting Komentar

Template by : Rq Baraik-template.blogspot.com